Thursday, 12 March 2015

Habakuk 2:1-5 Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya

Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya

1Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, 
aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku,
 dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.
2Lalu Tuhan menjawab aku, demikian:
"Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, 
supaya orang sambil lalu dapat  membacanya.
3Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, 
tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu;
apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu,
sebab sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
4Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada,
tidak lurus hatinya, tetapi orang benar itu akan hidup oleh percayanya.
5Orang yang sombong dan khianat dia yang melagak, 
tetapi ia tidak akan tetap ada;
ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan
 tidak kenyang-kenyang seperti maut,
 sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan 
segala bangsa dihimpunkannya"

"Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya"
  Demikianlah judul pembacaan kita, menurut habakuk 2:1-5. Kebanyakan dari semua manusia selalu mengandalkan akal dan logika semata, dimana semuanya membutuhkan bukti. Dan jikalau kita berbicara bukti mengenai kebenaran Alkitab maka yang kita temukan hanyalah iman semata yang menjadi bukti dari segala yang tidak kita lihat ataupun yang tidak kita dengar. Bagaimanakah kita bisa mengetahui kejadian yang terjadi beribu-ribu tahun lalu? Iman mengalahkan segala teori-teori dan ilmu pengetahuan akan alam semesta dan isinya. Adakah yang melebihi iman seseorang? Tentu saja ada 2 hal yang mengimbanginya, yaitu pengharapan dan kasih. Jikalau seseorang mempunyai harapan akan iman maka orang tersebut akan memperoleh kasih yang merupakan sumber dari segalanya. Bukankah dunia ada oleh karena kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal yang adalah Firman-Nya sendiri. 
Sekarang bagaimanakah kita bisa menumbuhkan iman tersebut? Pembacaan kita diatas menjelaskan dengan pasti, dimana seseorang harus bersabar dalam setiap keadaan sebagaimana dalam pasal "1Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.", kata "aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara" mengartikan bahwa kita secara suka rela sesuai dengan kasih kita kepada Tuhan, melihat akan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dan kata "aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan diFirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku mengandung arti bahwa kita dengan kerendahan hati kita mau memperhatikan setiap perintah Allah dalam Firman-Nya dengan segala kejadian yang terjadi dalam hidup kita. Terkadang Allah tidak akan langsung menjawab setiap keluhan yang kita naikkan kepada-Nya, tetapi Dia sendiri menjawab setiap keluhan kita dengan cara-Nya. Cara-Nya yang tersembunyi dan membuat kita kagum akan perkara yang telah dibuat-Nya. 
Pada ayat 2 sampai 3, dinyatakan dengan jelas, apabila seseorang telah menerima penglihatan. Penglihatan ini sebelumnya adalah suatu proses kematangan dari seseorang untuk menerima wahyu Allah. Dan sebelum menerima semuanya ini, orang tersebut harus di tempa dengan begitu kerasnya sehingga dia sendiri harus memancarkan iman, pengharapan dan kasih. Sebab percuma saja jikalah, kita mengatakan bahwa kita telah menerima penglihatan namun pada kenyataannya hal itu tidak pernah berlaku dalam hidup kita maka sia-sialah iman kita selama ini. Jikalau seseorang yang menerima wahyu Allah dan tidak pernah melakukan kehendak Allah maka semuanya percuma saja. Karena sebelum menerima hal itu orang tersebut harus mempunyai iman yang teguh kepada Allah, dan selalu bersandar pada diri-Nya. 
Untuk menerima wahyu Allah ini, seseorang harus siap dengan segala resiko yang akan terjadi kepada dirinya. Dia harus terlebih dahulu menggunakan senjata perang Allah barulah memperlengkapi orang lain dengan segala penglihatan-penglihatan yang telah diterimanya. Dan dengan menerima wahyu dari Allah, tidak membuat orang tersebut lebih tinggi dari pada orang lain, namun haruslah menunduk kepada orang lain untuk menjadi hamba Tuhan dan melayani umat Tuhan dimana pun dia berada. Orang tersebut harus rendah hati, dan menjaga akan segala kekudusan dirinya. 
Memang hanya orang-orang yang khusus yang dapat menerima hal ini. Namun bukan hal itu yang menjadi pertimbangan Allah kepada kita. Yang menjadi pertimbangan Allah kepada kita ialah orang yang melakukan Firman-Nya lah yang dapat menerima hal ini dan hanya Allah sendiri yang mempertimbangkan akan hal itu. Jikalau kita belum mendapat wahyu dari Allah akan kehidupan kita, maka kita harus bertanya kepada diri kita. Apakah kekurangan saya sehingga saya tidak dipilih oleh Allah? Walaupun kita telah berbuat baik, namun hal itu tidaklah menjadikan kita seseorang yang dipilih oleh Allah. Sebab bukan kebaikan kita yang dilihat Allah tapi hati kita yang memancarkan kasih dan Allah tahu akan hal yang ada di pikiran dan hati kita.
Jikalau seseorang mengangkat emas melebihi kesanggupannya maka orang tersebut akan tertindih dengan emas tersebut. Bukankah semua hal ini telah diperhitungkan oleh Allah. Jadi janganlah heran jika ada seorang yang bukan pelayan Gereja menerima penglihatan-penglihatan ini. Sebab Allah telah menjatuhkan pilihan-Nya kepada orang itu bukan karena jabatannya, bukan karena pendidikannya, dan bukan karena status apapun yang melekat dalam diri orang tersebut. Akan tetapi Allah telah mengetahui kesanggupan dari orang tersebut untuk memikul beban yang luar biasa beratnya dan Allah tidak akan memberikan beban yang melebihi kesanggupan dari orang tersebut. 
 Banyak manusia selalu menyalah artikan setiap perkara yang dibuat oleh Allah. Seringkali kita menyalahkan Allah akan segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita, baik sakit maupun sehat, baik duka maupun sukacita, semuanya tidak lepas dari pada tuntunan tangan-Nya. Kita mengeluh akan sakit yang kita dapat dan tidak pernah bersyukur atas sakit yang kita dapat. Jikalau kita berpikir secara daging maka kita hanya akan mendapat rasa sesal, keterpurukan dan rasa di jauhi dari kehidupan berkat yang sebenarnya. Tetapi Allah justru membuat segala hal itu agar kita semakin dekat dengan-Nya. Cambuk yang di datangkan kepada kita bukanlah hukuman, tetapi berkat yang mengajar kita untuk menjadi lebih tegar dan berdiri diatas penderitaan kita. Dan rasa sakit ini akan menimbulkan iman, pengharapan dan kasih yang membuat kita di benarkan daripada dunia ini.
Banyak orang merasa benar akan dirinya, sehingga menimbulkan rasa sombong yang tinggi. Merasa di berkati dan tidak di kutuk, merasa diri benar dan tidak pernah merasa bersalah karena menganggap bahwa dengan Kristus kita telah di tebus dan kita melebihi orang lain yang di kutuk. Semestinya dengan adanya Kristus dalam kehidupan kita, kita harus lebih menunduk dan menyadari betapa berdosanya kita sehingga Tuhan sendiri yang datang untuk menebus kita dari segala dosa kita. Hidup kita diberkati ataupun tidak itu adalah urusan dari pada Tuhan saja. Kita hanya harus selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan bersukacita di dalam Tuhan. Sehingga kita menghasilkan buah-buah dari pengharapan dan menumbuhkan iman dalam diri kita sehingga kasih itu tercermin dalam diri kita.
Orang yang menganggap dirinya melebihi orang lain, sesungguhnya orang tersebut tidak melebihi orang lain tersebut dalam kerajaan sorga. Bukan yang bergelar Theologi yang dibenarkan oleh Allah. Bukan mereka yang tinggal dalam gereja yang dibenarkan oleh Allah. Tetapi kepada setiap mereka yang merasa dirinya rendah dan berdosa dan mau bertobat serta melakukan Firman Allah sajalah yang benar. Sebab jika seseorang merasa dirinya lebih putih dan cemerlang melebihi orang lain maka orang tersebut tidak perlu diselamatkan oleh Kristus. Kepada mereka yang berdosa sajalah Dia datang ke dunia dan bukan kepada ahli-ahli taurat dan kaum farisi yang setiap hari berada di tempat ibadah yang hanya tau berdoa dan berdoa tetapi tidak melakukan Firman Allah. 
Allah menundukkan kepalamu supaya kamu tau bahwa masih ada orang yang di atas kamu dan hanya kepada Dialah kamu harus menyembah. Ingatlah bahwa semua yang telah di ilhamkan Allah kepada seseorang melalui Roh Kudus menjadi suatu kesaksian iman bagi setiap orang yang membacanya, agar supaya orang itu rendah hati, bertobat dan mengakui segala sesautu yang telah dijadikan Tuhan Allah kita itu baik adanya. Amin 
 
 
 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mampir di blog ini, semoga saudara di berkati oleh Tuhan kita. amin