Monday, 16 November 2015

Milikilah Kedamaian Bersama Dengan Tuhan Allah kita

Milikilah Kedamaian Bersama dengan Tuhan Allah kita


Saudara-saudara yang diberkati oleh Tuhan kita Yesus Kristus...salam dalam Kasih Shalom Eloihim..
   Pernahkah saudara dalam hidup saudara, saudara merasa jenuh, bosan, kosong? ataupun saudara merasakan biasa-biasa saja dan saudara mulai bosan dengan hidup saudara? Ataukah hidup saudara penuh dengan rasa kecewa terhadap orang yang berada disekitar saudara ataupun segala sesuatu menyakiti saudara?
 Ini adalah suatu keadaan yang dikatakan normal di dalam hidup manusia. Seorang manusia pasti merasakan semua hal ini yaitu senang, sakit, sedih, marah, jenuh, lelah dan lain sebagainya. Tetapi sungguh tidak wajar jika seorang manusia merasa senang waktu dalam masa kesedihannya ataupun sedih dimasa yang seharusnya dia merasa senang. Tentu hal ini adalah tidak wajar bagi seorang manusia dan bisa dikatakan bahwa orang tersebut telah mengalami gangguan jiwa.
  Semua manusia di dunia ini seharusnya mengalami masa-masa senang bersama dengan Tuhan dan tidak pernah merasakan yang namanya kesedihan. Semenjak manusia diciptakan untuk pertama kalinya di bumi, Tuhan menciptakan dunia ini untuk menjadi tempat yang penuh dengan kesenangan. Namun mengapa timbul kesedihan, kekecewaan, amarah dan berbagai hal negatif lainnya.
 Tuhan tidak pernah menjadikan dunia ini sebagai tempat lahirnya kesedihan dan kekecewaan dan hal lainnya. Mungkin saudara pernah menyalakan Tuhan atas segala hal negatif yang menimpa saudara. Saudara mungkin menganggap bahwa kesedihan itu juga berasal dari Tuhan Allah itu sendiri. Dan mungkin juga saudara menganggap bahwa kegelapan dalam hidup saudara adalah keputusan dari Tuhan sehingga saudara jatuh dalam dosa.
 Perlu saudara sekalian mengetahui bahwa Bapa kita yang di Sorga tidak pernah memberikan hal itu untuk kita. Memang oleh Dia segala sesuatu itu dibuat tetapi bukan oleh karena Dia sehingga kita mengalami hal-hal yang  menyedikan
 Bapa kita yang di Sorga selalu menyediakan yang terbaik untuk kita semua tapi kita tidak pernah menghargai apa yang diberikan Tuhan kepada kita semua. Sering kali kita menggap bahwa kekecewaan itu adalah hal yang buruk dan hal yang seharusnya tidak kita alami.
 Saudaraku, jika tanaman tidak pernah disinari teriknya matahari siang hari maka tanaman itu tidak akan kokoh dan tegar. Jika tanaman itu tidak pernah diterpa angin yang kencang tidak mungkin dia dapat berdiri menjulang ke langit.
 Memang segala sesuatu adalah kesedihan bagi manusia di dunia ini karena hadirnya dosa ditengah-tengah kita semua. Kita semua mulai mencari sebab akibat dari segala hal yang membawa kita jatuh ke dalam dosa namun dalam pencarian itu seringkali kita menikmati dosa tersebut.
  Mungkin kita akan sadar jikalau kita sudah dalam sakit, rasa sakit hati yang mendalam, rasa marah yang tidak bisa dipendam dan dilampiaskan ataupun sudah berada dalam ambang maut. Tetapi jika kita sedang sehat bugar dan dalam masa keberhasilan, kesenangan kita lupa akan Tuhan Allah kita. Kita hanyut dalam kegembiraan yang menghilangkan rasa cinta kita kepada Tuhan kita.
 Terlalu banyak cinta kepada dunia itu tidak baik, terlalu banyak mencintai apa yang ada pada kita itu tidak baik. Sebab Tuhan Allah kita adalah Allah yang cemburu yang membalasakan perbuatan bapa kepada anak, kepada turunan kedua, ketiga dan ke empat (Kel 20: 5).
  Merasa diberkati juga itu tidaklah baik, sebab hal itu menjadikan kita merasa lebih dari orang yang hidupnya luntang lantung di jalan. Ataupun kita merasa kita lebih suci dari orang lain dengan perbuatan kita setiap hari didalam kegiatan kerohanian sehingga menjadikan kita orang yang sombong akan rohani dan membuat orang lain rendah dihadapan kita. Tuhan Allah kita tidak menyukai hal ini karena tidak ada hal yang membenarkan saudara di dunia ini dengan perkara yang saudara perbuat. Hanyalah Dia satu-satu-Nya yang memberikan penilaian terhadap apa yang kita perbuat didunia.
  Saudaraku, Yesus Kristus sendiri tidak mengatakan diri-Nya baik kepada seorang yang kaya (Luk 18:19) disebabkan keinginan dari orang tersebut untuk menjadi orang yang benar dan kaya dengan mengikuti Yesus. Hal yang sukar dilakukan oleh orang adalah menyerahkan apa yang menjadi harta bendanya kepada Tuhan baik itu emas permata maupun anak, istri, teman dan hal lainnya yang dianggapnya sangatlah berharga bagi dirinya.
 Dalam hal mengikut Yesus, kita tidak haruslah seorang yang kaya raya, yang mempunyai anak yang banyak, baik dan pandai ataupun istri/suami yang cantik/tampan dan bijak. Yang diperlukan untuk mengikut Yesus adalah pemberian hatimu. Itu adalah hal pertama dan terutama sesuai Hukum Kasih dari Bapa kita di Sorga dan bukan dengan hal diluar dari  diri kita.
  Kekecewaan yang kita rasakan akan hilang ketika Dia sendiri yang telah menjadi Anak datang untuk menghibur kita dalam kesedihan kita. Dalam kekalahan kita Dia memberikan kita kemenangan dalam Dia. Sehingga segala sesuatu yang menyakiti hati kita tidak akan mengusik kita lagi sebab kita telah temukan kedamaian dalam diri-Nya yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita.
  Dunia tidak memberikan kedamaian kepada hati kita, kita hanya bisa peroleh semua itu dari Yesus saja dan di luar dari diri-Nya tidak ada kedamaian sama sekali. Apakah yang diberikan dunia kepada kita selain kekecewaan yang mendalam dalam segala hal.
 Manusia jatuh dalam dosa bukan karena dunia ini tapi dari dalam hatinya sendiri. Hati yang kosong akan membuat manusia itu tidak pernah merasakan kesenangan dalam hidupnya. Yang ada dalam dirinya hanyalah kekecewaan akan orang, benda dan hal lainnya yang di cintai maupun mencintainya dan terlebih kekecewaan kepada Tuhan.
 Saudaraku, bukalah celah sedikit saja dalam hati kita untuk memberikan tempat bagi Juruselamat kita datang untuk menghibur kita. Bukankah selama ini hidup kita sekalian penuh dengan kepahitan yang mendalam?
 Temukanlah arti kedamaian sejati didalam Yesus seorang yang adalah Tuhan dan Allah kita. Amin 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah mampir di blog ini, semoga saudara di berkati oleh Tuhan kita. amin